Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 10-08-2015
  • 19984 Kali

Bahasa Madura Miliki Tatakrama, Dan Bahasa Yang Berbudaya

News Room, Selasa ( 11/08 ) Bahasa Madura memiliki tatakrama dalam penuturannya, sehingga kemudian ada istilah umum yang mengatakan bahwa, Bahasa Madura adalah Bahasa yang berbudaya. Terlebih, Bahasa Madura adalah bahasa terbesar ketiga setelah bahasa Jawa dan bahasa Sunda. Mengingat yang sudah diurai dalam bagian pertama tulisan ini, bahwa bahasa Madura adalah lingua franca. Penuturnya tak hanya warga pulau Madura, melainkan juga di beberapa Kabupaten di bagian timur pulau Jawa, atau yang biasa dikenal dengan istilah daerah tapal kuda.

“Tatakrama berbahasa Madura terangkum dalam ondhaggha bhasa (tangga bahasa), yang secara garis besarnya terbagi dalam 3 tingkatan. Yakni, yang pertama bhasa enjak-iya (bahasa kasar), lalu bhasa enggi-enten (bahasa tengahan), dan yang selanjutnya bhasa engghi-bunten (bahasa kromo inggil, kalau dalam istilah Jawa),”kata pemerhati bahasa Madura di Sumenep, RB. A. Karim, pada News Room.

Berangkat dari hal itu, menurut pesiunan guru SD mapel bahasa daerah ini, ada ungkapan dalam masyarakat Madura, bahwa perilaku seseorang bisa dilihat dari cara bicaranya.

“Artinya, seperti yang pernah dikatakan oleh almarhum bapak RP. A. Sukur, orang Madura yang jarang bergaul dengan para penutur yang memahami kosakata dan kaidah berbahasa Madura cara bicaranya akan cenderung menjadi kaku, dan selanjutnya berpotensi mengucapkan kata-kata yang kurang layak. Kurang layak yang dimaksud di sini ialah bertutur dengan tanpa memperhatikan ondhaggha bhasa,”tambahnya.

Disamping itu, bahasa Madura juga tidak hanya berupa ondhaggha bhasa, namun di dalamnya juga termaktub yang namanya kosakata, peribahasa, aksara Gajang dan Carakan, careta kona, yang kesemuanya itu terkandung dalam paramasastra.

“Dalam paramasastra dijelaskan secara rinci mengenai sejarah penggunaan bahasa Madura. Lalu diterangkan mengenai proses konsonan, vocal dan diftong yang diucapkan. Kemudian juga memuat “pola keccap”, “ocak metorot kadaddhiyanna”, “mamacemma oca”, frase, dan juga “okara”,tutupnya. ( Farhan, Esha )