News Room, Selasa ( 11/10 ) Menurunnya ekosistem laut di perairan Kepulauan Sumenep, khususnya di Pulau Sapeken, akibat banyaknya nelayan menggunakan bahan peledak (handak) saat menangkap ikan, menjadi catatan tersendiri bagi Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) setempat. Saat ini, DKP Sumenep sedang mengevaluasi terhadap tatanan kehidupan nelayan di kepulauan, dengan berupaya membangkitkan budidaya kekayaan laut, diantaranya ikan dan rumput laut. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sumenep, Ir. Moh. Jakfar, MM menjelaskan, budidaya ikan maupun rumput laut penting, mengingat keberadaan ikan di perairan Pulau Sapeken semakin berkurang, akibat pola pikir nelayan yang instan atau ingin mendapat ikan sebanyak-banyaknya dengan menghalalkan berbagai cara termasuk menggunakan handak. “Cara ini tidak bisa dibiarkan, karena nantinya akan menghancurkan ekosistem laut. Seperti kasus di Sapekan. Para nelayan berlomba-lomba ingin mendapat ikan sebanyak-banyaknya sehingga lupa kehidupan anak dan cucunya kedepan. Sekarang mereka baru merasakan, untuk mendapat ikan harus berlayar berpuluh-puluh mil dari daerahnya,”katanya. Menurut Jakfar, pola pikir seperti itulah yang harus dirubah, dengan pengalihan program-program. “Kalau dulu kita dengan kekayaan laut melimpah bisa dengan menangkap. Tapi, ketika penangkapan sudah mengalami kendala yang disebabkan penggunaan handak, saatnya kita bangkitkan lagi budidaya laut, diantaranya budidaya ikan kerapu maupun rumput laut,”terangnya. Jakfar mengakui, jika ekosistem laut di Perairan Pulau Sapeken menurun, namun pihaknya belum bisa membeberkan secara rinci penurunannya. “Saya kan baru menjabat di Dinas Kelautan dan Perikanan ini. Jadi, saya masih mempelajari dulu, baru kemudian mengambil langkah. Tapi, untuk program pengalihan itu sudah mulai saya pikirkan,”ungkapnya. ( Nita, Esha )