Media Center Kamis ( 15/06 ) Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kabupaten Sumenep bekerja sama dengan Tim Inovasi melaksanakan Focus Group Discusion (FGD) dengan guru dan kepala sekolah, untuk instrumental praktis sekolah aman dan responsif gender, di Hotel C1, Kamis (15/06/2023).
Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Pelatihan Focal Point Sekolah Responsif Gender, yang digelar IGI Kabupaten Sumenep dan Tim Inovasi Jawa Timur akhir Mei 2023 lalu, di KPRI Serba Usaha Kecamatan Kota.
District Education Quality Improve Inovasi Jawa Timur yang juga Fasilitator Daerah (Fasda) Inovasi Kabupaten Sumenep Cahyadi Widi Wahyono, mengungkapkan, FGD dengan guru dan kepala sekolah untuk instrumental praktis sekolah aman dan responsif gender ini, merupakan kelanjutan dari kegiatan sebelumnya dan diambil dari beberapa peserta yang melaksanakan Rencana Tindak lanjut (RTL).
"Jika dulu diikuti 40 orang, kali ini hanya 20 orang dan mereka telah mencoba menerapkan instrumen tentang Sekolah Responsif Gender,'" jelasnya.
Dikatakan, kali ini mereka kembali diajak untuk diskusi terkait instrumen yang sudah dilaksanakan kemarin, untuk dilakukan beberapa penyempurnaan.
Hal tersebut sehubungan dengan Kabupaten Sumenep yang telah mendeklarasikan Sekolah Responsif Gender, sehingga perlu terus melakukan Inovasi hingga nantinya juga ada beberapa yang perlu dilakukan terkait kebijakan berikutnya, utamanya berkaitan Gender Equality atau kesetaraan gender, Disability atau disabilitas and Social Inclusion atau inklusi sosial dasar (GETSI).
Bahkan, pada pembukaan FGD itu, Kepala PLK Cabang Dinas Pendidikan Provinsi JawaTimur Wilayah Sumenep melalui Kasi SMA-PK, Rusliy, mengakui program Sekolah Responsif Gender ini, sangat bagus untuk terus dilakukan dan terus ditingkatkan, karena akan berdampak positif pada pelaksanaan pendidikan di semua jenjang khususnya di Kabupaten Sumenep.
"Dengan adanya fasilitator yang sebelumnya juga mendapatkan pelatihan bahkan, tidak sedikit mereka yang merupakan guru penggerak untuk mengembangkan dan mengkomunikasikan lagi kepada guru dan ke sekolah lain yang masih diam serta belum responsif gender," tandasnya.
Sedangkan kedua pemateri, Repelita Tambunan, Gender Officer Inovasi Indonesia Jakarta dan rekannya Joan Wicitra, tampak semakin bergairah mengajak peserta berdiskusi dan melaksanakan praktik. Dimulai dari menuliskan apa yang sudah dilakukan, kemudian yang mudah dilakukan terkait sekolah responsif gender di masing-masing sekolahnya, tantangannya hingga peluang dari kegiatan sekolah responsif gender.
Selanjutnya, Ketua IGI Kabupaten Sumenep, Budiyanto, menambahkan, meskipun kegiatan FGD dengan guru dan kepala sekolah waktunya terbatas, namun dengan antuasias dan hasil komunikasi serta diskusi bersama terhadap apa yang sudah dilakukan dan berbagai masukan termasuk koreksi dari para narasumber, akan semakin memantapkan pelaksanaan sekolah responsif gender di Kabupaten Sumenep.
"Ke depan IGI Kabupaten Sumenep bersama para guru dan kepala sekolah khususnya yang saat ini sudah mengawal kegiatan sekolah responsif gender akan terus melakukan pendampingan, agar terus berimbas pada guru dan kepala sekolah serta ke sekolah-sekolah yang lain di Kabupaten Sumenep," tambahnya. ( Ren, Fer )