Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 21-04-2025
  • 553 Kali

Gadinara, dan Kisah Perempuan-perempuan Hebat Dinasti Yudanegara (1)

Media Center, Senin (21/04) Dalam momentum Hari Kartini, warga Sumenep khususnya kaum hawa, harus berbangga diri. Karena berdasar fakta yang dimiliki, jika dulu di belahan bumi lainnya perempuan kurang mendapatkan tempat dan peran sesuai pilihan, di ujung timur pulau garam ini perempuan mampu menorehkan tinta emas sejarah, jauh sebelum munculnya Ibu kita Kartini.

Isu kesetaraan gender dan feminisme mulai banyak dibincang dan bergaung pasca munculnya putri dari Jepara itu. Namun tidak banyak yang tahu, bahwa di abad 17 paruh kedua hingga puncaknya di pertengahan abad 18, perempuan sudah mulai memainkan peran besar tidak hanya dalam konteks kaumnya saja, melainkan dalam ranah kekuasaan yang kala itu masih bercorak sistem monarki.

"Selama ini tokoh yang banyak menonjol dalam sejarah Sumenep khususnya banyak memunculkan nama-nama berjenis kelamin laki-laki, padahal status perempuan di kalangan keraton atau istana memiliki pengaruh yang tidak bisa diremehkan," kata Ketua Komunitas Sumenep Tempo Dulu Faiq Nur Fikri, Senin (21/04/2025).

Hal itu dibuktikan Faiq dalam banyak literatur baik lokal maupun catatan orang-orang asing, bahwa dalam kronik sejarah suksesi pemerintahan di Madura Timur, khususnya sejak dinasti Yudanegara (1672-1762) terdapat jejak-jejak tangan halus para putri Kedaton.

"Puncaknya di masa hidup Raden Ayu Rasmana, bagaimana seorang perempuan yang selalu digambarkan dengan segala sisi feminimnya ternyata memiliki kendali kuat dalam menciptakan perubahan," tambahnya.

Raden Ayu Rasmana atau yang memiliki nama lain Raden Gadinara dikenal sebagai sosok penguasa perempuan dalam daftar pewaris tahta. Beliau juga yang pertama kali berani menunjuk suaminya yang notabene dari "luar tembok keraton" sekaligus anak tirinya sebagai penerus roda pemerintahan di bumi Sumekar.

"Kalau ingin membuktikan bahwa di balik laki-laki hebat ada perempuan hebat, maka salah satunya tertuju pada sosok Ratu Rasmana," kata RB Ja'far Shodiq, salah satu pemerhati sejarah dari Komunitas Ngopi Sejarah (Ngoser) di hari yang sama.

Selain Gadinara, tokoh-tokoh perempuan dari Dinasti Yudanegara memang dituliskan sebagai penguasa de fakto, yang tentunya hal tersebut tidak hanya berdasarkan garis keturunan, melainkan diakui sebagai kemampuan bawaan. Artinya, perpaduan serasi antara gen dan intelektualitas yang tak terbantahkan. Sehingga di balik kelembutan seorang putri Kedaton, tersimpan kekuatan magis yang tak terkalahkan.

"Sudah saatnya kita bicara para tokoh perempuan-perempuan hebat Sumenep ini, tidak hanya sebab momentum Hari Kartini, agar terpatri dalam benak generasi ke generasi," tutup Ja'far.

(Han)