Media Center, Sabtu ( 05/08 ) Sultan
Sumenep, Abdurrahman Pakunataningrat dikenal sebagai
penguasa wilayah yang alim di bidang agama, bahasa, dan budaya.
Kealimannya sudah tampak sejak masih kecil. Bahkan, sebelum baligh,
beliau sudah biasa terlibat dalam majelis ulama di masanya.
Menurut
riwayat kuna Keraton Sumenep, Abdurrahman kecil memang gemar mencari
ilmu. Beliau juga tidak seperti pangeran pada umumnya yang suka
menghabiskan waktu di istana dengan segala kemewahannya.
Sebaliknya, sang pangeran muda dahulu suka pada laku tirakat dan kental
dengan tarekat, bahkan mengantongi talqin empat aliran thariqah
(tarekat) mu’tabaroh sekaligus.
Karena selalu haus ilmu, Sultan Abdurrahman selalu mencari guru. Salah satu gurunya ialah Wali
besar di masanya, Sayyid Syaikh Bafaqih. Sayyid
ini ialah mursyid fath Sultan. Selain guru, keduanya juga bersahabat.
Bahkan sangat akrab. Keduanya saling memuliakan, bahkan konon sang guru
mengakui jika dalam hal kewalian, Sultan melebihi dirinya. Wa
Allahu a’lam.
“Sayyid Syaikh ini menetap dan wafat di
Botoputih Surabaya. Sehingga dikenal dengan sebutan Sayyid Botoputih
atau Habib Botoputih. Namun meski begitu beliau selalu
berkunjung ke Sumenep,” kata RB. Muhlis, salah satu keturunan
Sultan Sumenep sekaligus pemerhati sejarah di bumi Jokotole ini, pada
Media Center.
Ada kisah yang diriwayatkan secara masyhur di Sumenep.
Dulu, tepat pada wafatnya Sultan, Sayyid Syaikh ta’ziah. Saat itulah
diperlihatkan karomah keduanya. Sayyid Syaikh di bibir lubang makam
Sultan berdiri sambil mengangkat sebuah batu besar. Beliau lantas
berseru, “Jasad Sultan sudah tak ada di kuburnya. Tapi sudah diangkat ke
‘illiyyin. Kalau tak percaya lihat ini,” sambil bersamaan menghujamkan
batu besar yang dipegangnya ke jasad Sultan yang dibungkus kafan.
Dan
benar saja. Kain itu amblas. Tanda tak ada jasad di dalamnya. Ketika
itu Sayyid Syaikh berkata, “Seandainya Sultan ini tidak berat
dengan pangkat keduniawiannya sebagai raja, niscaya keluarganya tidak
bisa menyentuh jasadnya”.
Sebelum peristiwa itu, ada riwayat
turun-temurun juga. Salah satu anak laki-laki Sultan yang masih kecil,
Pangeran Suryoamijoyo atau Pangeran Ami, bermain-main di bawah ranjang
jenazah ayahnya. Saat itu Sayyid Syaikh masuk ke kamar tersebut. Jasad
Sultan tiba-tiba bangkit lagi, dan berdialog dengan Sayyid. Sontak,
Pangeran Ami kaget melihatnya, lalu berlari keluar sambil berteriak,
“Ka.. ka.. kaaiii, hidup lagi..”.
Riwayat
yang diceritakan oleh RB. Fahrurrazi ini terjadi pada
saat Sultan baru saja wafat. “Konon, pangeran Ami sejak kejadian itu
kalau bicara tidak lancar atau tidak fasih. Kata orang Sumenepnya,
kakka’,” kata Fahrurrazi.
Pasca wafatnya Sultan, Sayyid Syaikh
diceritakan masih tetap sering berkunjung ke Sumenep. Beliau juga
disebut dekat dengan putra sekaligus pengganti Sultan Abdurrahman,
Panembahan Muhammad Saleh Notokusumo. ( M Farhan M, Fer )