News Room, Rabu ( 18/05 ) Tradisi atau budaya yang merupakan warisan kearifan lokal di Madura sudah banyak yang berserakan bahkan terkubur. Popularitasnya sudah mulai tenggelam, seiiring perubahan jaman. Salah satu di antaranya ialah ritual Ojung.
"Ojung ini merupakan salah satu budaya Madura yang tertua. Bahkan diperkirakan sudah ada di masa pemerintahan Aria Wiraraja,"kata salah satu Budayawan Sumenep, Edhi Setiawan, SH, pada Media Center, Selasa senja (17/05).
Asumsi Edhi didasarkan pada fakta lapangan, bahwa ritual ini salah satunya hidup di wilayah Kecamatan Batuputih. Sedangkan dulu, Batuputih merupakan pusat pemerintahan Aria Wiraraja.
"Lalu juga di Banasare Kecamatan Rubaru, tradisi ini juga masih dilestarikan. Kita kan tahu Banasare dulu kan juga pusat pemerintahan di Sumenep,"kata Edhi yang kala itu hadir dalam ritual Ojung di Desa Batuputih Daya, Kecamatan Batuputih, bersama Media Center.
Asumsi lain berdasar pada aksi para pelaku atau istilahnya pemain yang sudah "ebukot" atau disandingkan dalam ritual tersebut, yang jika diteliti seksama memang jauh dari budaya atau peradaban Islam. Aksi ini agak diwarnai kekerasan meski hanya berlangsung sekitar 3 menit.
Dalam pantaun Media Center, ritual Ojung digelar di sebuah panggung buatan berukuran 1 x 2 meter. Panggung buatan itu diberi batas tengah yang masing-masing ditempati 2 pemain. Pemain berjenis kelamin lelaki dan diberi sejenis pecut atau cambuk rotan pada "ojung" atau ujungnya.
Sementara di tangan kiri diberi pengaman yang fungsinya sebagai penangkis serangan, dan di bagian kepala juga diberi pengaman yang dikemas secara khusus. Di antara dua pemain ada seorang wasit. Setelah kedua pemain siap, maka dimulailah adu cambuk antara kedua pemain yang sasarannya ialah tubuh bagian atas.
"Jadi, kaki pemain tak boleh melewati batas. Yang banyak mengenai sasaran ialah pemenangnya,"kata Suto, wasit kala itu. Kenapa disebut ritual ?.
Ojung, secara historis merupakan salah satu gelar doa untuk mendatangkan hujan atau sumber mata air. Di jaman dulu, pemain Ojung melakukan ritual ini dengan suka rela.
"Tapi kalau sekarang pemainnya dibayar,"kata Suto. Bahkan dewasa ini di Kecamatan Batuputih, Ojung dilombakan setiap pekannya. Sementara khusus ritual dilakukan setiap tahun. Tahun ini sudah berlangsung beberapa kali, salah satunya, Selasa kemarin.
"Masih tinggal dua kali pementasan. Lalu istirahat di bulan Ramadlan. Kemudian lanjut lagi setelah hari raya, sampai selesai," kata Suto.
Uniknya lagi, Ojung berlangsung secara fair. Tidak ada saling dendam atau permusuhan antar peserta Ojung. Namun, saat dipanggung aksinya pun total. "Tak ada teman atau famili, langsung disantap dengan cambuk,"kata Suto sambil tersenyum. ( Farhan, Esha )