News Room, Senin ( 11/05 ) Nama Trunojoyo disebut oleh Budayawan Sumenep, HD. Zawawi Imran, terbukti sudah menjadi representasi dari Pulau Madura.
Hal itu ia disebutkan ketika berkomentar mengenai peresmian komersialisasi Bandara di Sumenep, beberapa waktu yang lalu.
“Di bagian barat pulau garam ini sudah ada Universitas Trunojoyo. Dan di ujung timur, yakni di Sumenep ini sudah ada Bandara Trunojoyo,”kata penyair yang digelari dengan“Celurit Emas” ini pada News Room.
Untuk itu, Zawawi berharap agar nilai-nilai budaya lokal terus dipertahankan. Mengingat tak lama lagi Sumenep akan lebih cepat mendapat perhatian turis yang mengunjungi Sumenep.
“Pengaruh pasti ada. tapi saya kira tidak terlalu signifikan. Namun tetap waspada sejak dini itu sangat perlu,”nasehatnya.
Seperti yang diketahui, beberapa hari lalu, tepatnya hari Sabtu (02/05), Sumenep meresmikan Bandara Trunojoyo sebagai penerbangan komersil.
Nama Trunojoyo mengacu pada tokoh pahlawan asal Madura yang berhasil memporak-porandakan pertahanan Belanda di kurun 1600-an.
Trunojoyo bahkan berhasil menumbangkan tahta Mataram untuk beberapa saat dari tangan Raja Amangkurat I, yang dikenal sebagai penguasa tiran di masanya. Secara genealogi Trunojoyo adalah keturunan bangsawan dari Bangkalan sekaligus Sumenep.
Ayahnya Raden Tumenggung Mlaya atau Mudhin Mlaja adalah putra dari Pangeran Cakraningrat I, Raja Bangkalan. Sedangkan ibunya ialah putri bangsawan dari Keraton Sumenep, keturunan dari Joko Tole.
Trunojoyo atau yang dikenal sebagai Panembahan Maduratna itu selanjutnya menjadi kebanggaan Madura, dan sekaligus simbol kepahlawanan di Pulau Garam ini. Dalam sejarahnya, Trunojoyo gugur di tangan Adipati Anom, putra Amangkurat I, yang awalnya menjadi sekutunya. ( Farhan, Esha )