Media Center, Jumat ( 27/10 ) Sebuah makam kuna yang tak biasa di Desa Keles,
Kecamatan Ambunten, Kabupaten Sumenep masih menyimpan misteri. Disebut
tak biasa, kendati dari bentuk nisannya memang kuna, namun ukuran
kijingnya jauh lebih panjang dari makam kuna manapun di Sumenep. Mungkin
satu-satunya yang mirip makam ini hanya di daerah Kecamatan Bluto,
yaitu pasarean Raja Joharsari.
Makam di Desa Keles itu dikenal
oleh masyarakat Ambunten sebagai makam Pangeran Mandaraga. Nama
Mandaraga, di literatur babad atau sejarah Sumenep
dikenal sebagai salah satu penguasa kawasan ujung timur Pulau Garam ini.
Nama itu sejatinya sebuah ‘nisbat’. Karena nama asli Mandaraga,
konon ialah Raden Piturut. Mandaraga adalah sebuah tempat atau lokasi
yang beliau diami. Dalam konteks penguasa, di tempat itu ia bertahta
atau mendirikan keratonnya.
“Ya, kini, Mandaraga menjadi nama
sebuah kampung,”kata Faiqul Khair al-Kudus, salah satu pemerhati sejarah
di Parongpong, Desa Kecer, Kecamatan Dasuk, pada Media Center.
Lalu di mana letak misterinya? Dalam catatan babad karya Werdisastra, nama Pangeran Mandaraga disebut lebih awal. Babad memang memulai kisahnya dari sosok legendaris utama Sumenep: Jokotole. Kendati literatur lain menyebut bahwa Sumenep, dari catatan otentik, sudah diperintah oleh penguasa bernama Aria Wiraraja, sekitar kurang lebih 2 abad sebelumnya. Nah, Pangeran Mandaraga dikenal sebagai keturunan langsung adik Wiraraja, yaitu Aria Bangah, yang selanjutnya mengganti sang kakak sebagai Adipati di Sumenep.
Namun, di beberapa catatan
silsilah, baik yang bersumber di Madura Timur (Sumenep) atau Barat
(Pamekasan hingga Bangkalan), ada nama Pangeran Mandaraga yang disebut
sebagai cucu Sunan Kudus. Beliau ditulis sebagai suami Nyai Gede Kentel,
cucu Sunan Giri. Catatan itu bahkan diadopsi juga oleh penulis buku
silsilah keluarga besar Keraton Sumenep dari dinasti terakhir.
“Ya, di buku silsilah Sumenep, salah satunya yang disusun RB Abdul Fatah, setebal 75 halaman,”kata RP. M. Mangkuadiningrat, salah satu pemerhati sejarah di Sumenep.
Masalahnya, jika kemudian Pangeran
Mandaraga yang disebut sebagai suami Nyai Gede Kentel itu adalah orang
yang sama dengan penguasa Sumenep di kurun 1300-an Masehi itu, jelas
tertolak dengan fakta sejarah masa hidup Sunan Giri (kakek Nyai Gede
Kentil) yang lahir di paruh pertama 1400-an Masehi.
“Namun masalah
lainnya, ke dua sumber, yaitu babad dan catatan silsilah yang versi ke
Sunan Kudus, sama-sama menyebut bahwa Pangeran Mandaraga berputra
Pangeran Bukabu dan Pangeran Baragung,”kata Mangku.
Misteri
asal-usul itu menurut Mangku perlu dilakukan kajian mendalam. Di sana
perlu dilakukan ujian adu data, dan perlu dibuat kesimpulan, meski tidak
harus menyamakan versi.
“Sejarah memang tidak akan selesai dikaji, sampai kapan pun,”katanya.
Lalu bagaimana dengan postur makam? KH. Suhil Imam di Ambunten yang
juga dikenal sebagai pemerhati silsilah dan sejarah ikut berkomentar.
Menurut beliau makam tersebut tidak sepanjang itu. Namun sudah dipugar
lagi. “Tidak seperti itu aslinya,”tuturnya. Beliau juga menyebut nama
Mandaraga kurang tepat, namun yang benar ialah Mandiraga.
Terpisah, R.B Nurul Hidayat, salah satu pemerhati sejarah lainnya
mengatakan, mungkin kata-kata Kiai Suhil ada benarnya. Pasalnya, kijing
makam sudah tidak original, alias dikeramik. “Bisa jadi antara nisan
bagian kepala dan kaki bergeser atau memang sengaja digeser,”katanya. ( M
Farhan M, Esha )