News Room, Kamis ( 28/04 ) Sebagai bagian dari budaya Madura, sejatinya bahasa Madura hidup di tengah gempuran empat jaman. Setiap jaman memberikan pengaruh yang tidak sedikit. Salah satu praktisi senior bahasa Madura, almarhum Raden Panji Abdus Sukur Notoasmoro, pernah mengungkapkan secara garis besar Madura memiliki empat jaman.
“Jaman atau fase pertama ialah masa feodalisme ketika Madura menjadi wilayah kekuasaan kerajaan di Jawa, yang dimulai dengan dinohkenkannya Aria Wiraraja oleh penguasa Singhasari,” kata Pak Sukur, seperti yang ditirukan putranya, Haji Raden Bagus Nurul Hamzah.
Fase kedua lanjut Pak Sukur ialah masa transisional, yaitu masa awal Bangsa Belanda dengan VOC-nya menancapkan kuku penjajahan di bumi Nusantara ini. Kemudian setelahnya masuk fase neofeodalisme, yaitu fase “keratonisasi” bertengger kembali dengan dukungan kolonialisme Belanda.
“Fase selanjutnya ialah masa runtuhnya neofeodalisme yang ditandai dengan hadirnya penjajahan Jepang dan awal-awal berdirinya Pemerintah Indonesia,” tambah Pak Sukur.
Di masa pertama dan kedua, hampir tidak ditemukan literatur tertulis mengenai bahasa Madura, maupun sastranya. Di masa itu memang masih belum ada tradisi menulis, kecuali di kalangan tertentu. Tradisi menulis mulai bergema di era Balai Pustaka tahun 1920-an, bagian dari era neofedalisme.
“Di masa itu buku-buku berbahasa Madura pernah memenuhi rak-rak buku di lemari sekolah. Baik buku terjemahan, saduran, maupun buku-buku yang dikarang oleh orang-orang Madura sendiri,” kata Haji Nono, panggilan akrab Nurul Hamzah.
Setelah itu mulai melangkah pada penulisan ejaan. Di lidah para penuturnya, bahasa Madura tidak memiliki masalah atau perbedaan. Namun lain halnya ketika harus dituangkan dalam bentuk tulisan. Ejaan yang tertulis kemudian memiliki banyak seragam. Sehingga penyeragaman ejaan menjadi hal yang sangat penting dalam suatu bahasa. “Karena ejaan yang berbeda-beda akan menumbuhkan kesalahpahaman, salah maksud, serta akan menyulitkan bagi para pembacanya,” tambah Haji Nono.
Secara historis, ejaan bahasa Madura sangat dinamis. Ejaan ini senantiasa mengalami perubahan dan penyempurnaan. Dinamika ejaan bahasa Madura dimulai sebelum tahun 1918 hingga 1939. Saat itu digunakan ejaan Balai Pustaka yang berpedoman pada ejaan Ch A Van Ophuysen untuk bahasa Melayu, yang selanjutnya dikenal dengan Ejaan Van Ophuysen.
Setahun setelahnya, yakni di tahun 1940, Ejaan Van Ophuysen berganti pada ejaan Provinsi Jawa Timur. Ejaan ini disahkan oleh Inspekteur Hoofd V/D Dienst der Prov Onderwijs aangelegenheden van Oost Java atau Kepala Inspeksi Pengajaran Provinsi Jawa Timur, yang bernama E van Stappershoef.
Pasca kemerdekaan, ejaan bahasa Madura atau ejaan provinsi itu berubah lagi, atau diselaraskan dengan ejaan Suwandi atau ejaan Republik. Dan di tahun 1973, ejaan bahasa Madura disempurnakan dari hasil, sarasehan tahun 1973 di Pamekasan, yang selanjutnya dipakai hingga saat ini. ( Farhan, Fer )