Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 13-08-2015
  • 2530 Kali

Profil Pejuang Sumenep : Mayor RA. Mangkuadiningrat

News Room, Jumat ( 14/08 ) Nama Mayor Raden Ario Mangkuadiningrat di Sumenep sangatlah populer. Bagi kalangan masyarakat Madura, khususnya Sumenep, Ja Mangko-panggilan beliau, merupakan salah satu tokoh yang banyak berperan dalam perjuangan mempertahankan kedaulatan RI yang waktu itu masih berupa “bayi” kemerdekaan. Ya, meski sudah mengumandangkan Teks Proklamasi yang menunjukkan pada dunia, bahwa ada Negara baru yang bardaulat bernama Indonesia, tidak lantas menjadikan negeri ini bisa menjalankan roda pemerintahan secara efektif.

Rongrongan bangsa Belanda yang tidak terima, jika Indonesia berdaulat sendiri terus menerus datang dalam bentuk upaya penjajahan jilid selanjutnya. Madura yang waktu itu sudah mulai menata kedaaan di dalamnya, juga tidak bisa lepas dari kedatangan bangsa asing yang seaka-akan tidak puas menjajah selama 3 abad lebih. Barisan-barisan militer yang baru terbentuk, dan jaringan pejuang yang dikenal dengan barisan Sabilillah dan berbasis kalangan pesantren, bahu membahu mengusir Belanda untuk ke 2 kalinya. Nah, ketika clash kembali terjadi, yakni di tahun 1947, Mayor Mangkuadiningrat merupakan salah satu tokoh penting yang berada di balik perjuangan tersebut.

Posisinya di militer kala itu dan latar belakangnya sebagai anggota kalangan bangsawan di Sumenep membuat pengaruhnya di kalangan pejuang kita sangat besar, sehingga buah pikiran dan kebijakan-kebijakan yang dibuatnya sangat dibutuhkan di saat-saat genting waktu itu.

Selepas pendidikan, Pak Mangku bergabung di kemiliteran hingga Indonesia lepas dari Belanda dan Jepang dengan adanya proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945. Pak Mangku selanjutnya ditempatkan di Resimen 35 Jokotole Madura yang waktu itu berkedudukan di Pamekasan.

“Jabatan Bapak waktu itu Kepala Staf Resimen dengan pangkat Mayor. Sedangkan Komandan Resimennya ialah Pak Letnan Kolonel R. Candra Hasan,”kata RP. Mohammad, putra bungsunya. Namun, saat terjadi clash dengan Belanda tahun 1947, Candra Hasan bertolak ke Jogjakarta (ibukota Negara waktu itu) untuk meminta bantuan peralatan senjata dan amunisi. Sebagai Komandan ditunjuklah Pak Mangku, sehingga saat itu beliau resmi sebagai Komandan Resimen 35 Jokotole Madura menggantikan Letkol Candra.

Tahun 1947 sejatinya adalah titik awal kiprah Pak Mangku dalam militer. Karena di saat itulah sepak terjangnya dalam perang terbuka atau kontak fisik langsung dengan penjajah dirasakannya. Kala itu, pertama kali dimulai dari peristiwa Bangkalan, saat Belanda dengan membonceng Inggris mendarat di Madura.

Dalam peristiwa itu, gugur sebagai syahid Letnan R. Mohammad Ramli di Kamal. Pak Mangku selaku pimpinan segera menarik pasukannya mundur menyusuri pesisir utara hingga berhasil kembali ke markas Resimen di Pamekasan. Belanda terus menyusul sehingga kontak fisik terjadi lagi di Pamekasan hingga dua kali. Peristiwa itu mengakibatkan gugurnya banyak personel resimen, salah satunya Kapten Tesna.

Akhirnya Pak Mangku memerintahkan anak buahnya mundur ke Timur. Dalam perjalanan mundur, beliau berkali-kali hampir terbunuh. Hingga akhirnya persembunyiannya di Desa Karduluk diketahui. Saat itu beliau hanya ditemani ajudannya, Salam. Belanda kemudian meminta salah satu keluarga Pak Mangku untuk membujuknya menyerah, namun ditolaknya. Akhirnya kontak fisik terjadi di Karduluk. Pak Mangku berhasil lolos dan terus kearah utara.

”Bapak turun ke utara. Namun, akhirnya tertangkap di Kampung Leke Dalam, Desa Bilapora. Selanjutnya beliau ditawan di tangsi (saat ini Kodim), selama beberapa bulan. Dan tepatnya bulan Maret 1948 beliau dibawa ke Pamekasan dan di sana dilepaskan dengan syarat tak boleh mengangkat senjata lagi,”cerita Mohammad atau Gus Mad.

Setelah itu terjadi perundingan di Pamekasan. Dari pihak Belanda diwakili Mayor D Swemel dan di pihak Indonesia diwakili oleh Mayor Mangkuadiningrat. Hasilnya pihak Belanda bersedia keluar dari Madura, dengan ditandai dengan dinaikkannya Bendera Merah Putih di Karesidenan Madura. ( Farhan, Esha )