Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 25-08-2016
  • 2068 Kali

Sumenep Merupakan Pusat Peradaban Awal Madura

News Room, Jumat ( 26/08 ) Peradaban awal Madura terkait erat dengan Sumenep. Sejarah membuktikan bahwa Kota kecil di ujung Timur nusa garam ini sudah menjadi buah bibir sejak dulu kala. Terlebih di masa dua kerajaan besar Singhasari dan Majapahit, Kota ini bahkan menjadi cikal bakal dinasti Wijaya.

Sumenep juga dipastikan lebih awal dibanding Sampang, Pamekasan (dulu Pamelingan), dan Bangkalan. Sampang baru jadi buah bibir pasca runtuhnya Majapahit. Ia juga jadi pusat pemerintahan di masa Cakraningrat I.

"Dulu sejarawan menyebut Madura Barat untuk wilayah di barat Pamekasan. Itu pun juga merujuk ke Sampang, " kata salah satu pemerhati sejarah di Sumenep, R. M. Muhlis pada Media Center.

Sementara di ujung barat dikenal Keraton Arosbaya yang menjadi cikal-bakal dinasti Cakraningrat. Sedangkan Bangkalan sendiri baru populer di kurun 1700-an, atau di masa Cakraadiningrat V atau Sidl Mukti pasca peristiwa Ke Lessap.

"Sumenep dalam banyak literatur itu merupakan pusat pemerintahan di Madura. Sultan Abdurrahman misalnya pernah menemukan prasasti yang menyebut nama Pangeran Rato sebagai penguasanya, " kata Muhlis.

Prasasti Pintu Agung Keraton Sumenep dalam tulisan Arab dan Madura kuno menyebut Brahmono Hasmoro Hung Putri Hayu. Jika diterjemahkan struktur pemerintahan di Sumenep sudah ada sejak  1 Januari 986 Masehi. Kala itu jaman Brahmana (Hindu)

 

"Penentuan hari jadi juga awalnya ada perdebatan. Di satu pihak menyebut pelantikan Aria Wiraraja di tahun 1269. Namun dalam prasasti Pictugraf di Barana Kubah Pulangjiwa Kota ini berdiri pada 1 Desember 1292 Masehi, " jelas Muhlis.

Tahun 1292 Masehi sejatinya masa turunnya Wiraraja sebelum kemudian berkuasa di Lumajang. "Ya tahun 1269 itu Sumenep di bawah Singhasari. Sedang di tahun 1292 Masehi itu awal berdirinya Majapahit. Namun yang dipakai yang pertama setelah melalui proses seminar, yaitu tanggal 31 Oktober merujuk tanggal pengukuhan Wiraraja di 1269," tutup Muhlis. ( M. Farhan, Fer )